“Apa itu konjungasi kak?” Tanya seorang siswa.
“Konjungsi dek,” jawabku sambil memperbaiki apa yang dia katakan.
Konjungsi itu adalah kata hubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang lain atau menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Konjungsi yang menghubungkan klausa yang satu dengan klausa yang lain disebut konjungsi intrakalimat. Konjungsi yang tugasnya menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain disebut konjungsi antarkalimat. Penggunaannya pun pasti berbeda makanya sebagian besar orang keliru dalam penggunaannya. Misalnya konjungsi namun ditulis di tengah kalimat, salah? Sudah pasti, kenapa? Ayo, simak beberapa konjungsi yang sering kali digunakan secara keliru.
1. Konjungsi namun
Konjungsi ini adalah konjungsi yang berfungsi untuk menyatakan pertentangan. Kata hubung namun termasuk ke dalam konjungsi antarkalimat. Itu artinya penempatannya pasti ada di awal kalimat. Suatu waktu siswa saya bertanya, “Kak, berarti kata namun harus ditulis pake huruf kapital? Tanyanya. “Iya pasti karena letaknya ada di awal kalimat dan setelah konjungsi itu harus ada tanda komanya, jelasku. “Kak bisa kasi contoh?”
Tim kami kalah dalam pertandingan itu. Namun, kami tetap bangga karena telah berjuang.
Saya menuliskan contoh tersebut di papan tulis dengan menggarisbawahi kata namun dan memberikan lingkaran merah pada tanda komanya sebagai penekanan dan memperlihatkan penggunaannya serta tanda baca yang dipakai.
2. Konjungsi jika dan maka
Konjungsi ini adalah konjungsi intrakalimat yang menghubungkan kalimat majemuk bertingkat. “Ada kalimat majemuk bertingkat dan ada kalimat majemuk setara nah dek,” jelasku pada siswa kelas tiga SMP hari itu. “Kalau kalimat majemuk bertingkat berarti ada anak kalimat dan ada induk kalimat,” Lanjutku “Bagaimana cara membedakannya kak?” tanya seorang siswa penasaran. “Kalau anak kalimat berarti tidak bisa berdiri sendiri, induk kalimat yang bisa berdiri sendiri tanpa anak kalimat dan berpola subjek dan predikat. “Kak kalau kalimat ini:
Jika kamu rajin maka kamu dapat hadiah, benar inikah kak?”
Kalimat di atas tentu saja keliru karena di dalam sebuah kalimat majemuk bertingkat, hanya boleh digunakan satu konjungsi saja sehingga ada yang namanya klausa bawahan (anak kalimat) dan ada yang sebagai klausa atasan (induk kalimat). Induk kalimat harus memiliki fungsi subjek dan predikat. Penggunaan konjungsi cukup pada klausa bawahan saja. Jadi, konjungsi jika sudah digunakan maka tidak usah lagi menambahkan kata maka. Begitu pun sebaliknya.
3. Konjungsi tetapi dan akan tetapi
Kalau saya bertanya ke siswa saat mengajar, apa bedanya tetapi dan akan tetapi? Jawabannya pasti mereka bilang: “Ada yang pake akan ada yang tidak kak.” Saya pun tertawa atau nyengir mendengar jawaban seperti itu.
Mau tahu apa bedanya? Bedanya adalah tetapi merupakan konjungsi intrakalimat yang berarti penulisannya harus ada di tengah kalimat dan ada tanda koma sebelumnya. Konjungsi akan tetapi digunakan di awal kalimat, itu artinya termasuk dalam konjungsi antarkalimat yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Penulisannya menggunakan huruf kapital dan ada tanda koma setelahnya. Bingung? Coba cek contohnya di bawah ini.
Dia sangat cantik, tetapi sombong.
Dia adalah seorang siswa yang pintar. Akan tetapi, dia tidak pernah sombong.
Sudah lihat kan bedanya?
4. Konjungsi demi, untuk, agar, dan supaya
Keempat konjungsi di atas adalah konjungsi intrakalimat yang ditulis di tengah kalimat. Keempat konjungsi di atas fungsinya sama ya, sama-sama termasuk ke dalam konjungsi yang menyatakan tujuan. Penggunaannya masih biasa ada yang keliru, baik dalam tulisan maupun dalam penggunaan secara lisan. Mari kita lihat.
Kita harus menjaga kebersihan agar supaya lingkungan tetap terjaga.
Kegiatan ini demi untuk kepentingan bersama.
Kedua kalimat di atas kurang tepat penggunaanya karena keempat konjungsi tersebut fungsinya sama, yaitu menyatakan tujuan. Jadi, pemakaiannya cukup salah satu saja. Jika ingin menggunakan kata agar tidak usah menggunakan kata supaya atau jika ingin menggunakan kata demi tidak usah menggunakan kata untuk begitu pun sebaliknya. Belajarlah untuk setia pada satu kata hubung saja *eh
Ardian
Baru tahu aku bedanya tetaoi dan akan tetapi, juga sama penggunaan namun. Terkadang saya pakai kata namun setelah tanda koma, bukan tanda tirik. Haha, keren ilmunya kak.
Yhanthy Dech
Point ke empat, kadang suka juga melakukannya. Sudah tahu kalo itu maknanya sama tetapi selalu saja menuliskan, dan memang akan terdengar berlebihan manakala digunakan bersama-sama.
Terimakasih cikgu 🙂
Eryvia Maronie
Makasih, bu guru. Baca artikel ini, saya jadi dapat tambahan ilmu lagi.
Tapi harus saya baca pelan-pelan itu tentang intrakalimat.
Ayi
Waduh, saya masih sering salah ternyata. Terimakasih ilmunya… Saya masih harus banyak belajar cara penulisan yang benar ini..
lelakibugis.net
Bu, boleh bertanya? Kenapa anak kalimat tidak bisa berdiri sendiri? Apa karena ia masih kecil yah, Bu?
Oh iya, Bu.. Ada beberapa typo dalam artikel di atas. Maaf ya, Bu.
irmawati
Anak kalimat tidak bisa berdiri sendiri bukan karena masih kecil tapi tidak memiliki pola subjek dan predikat.
Terima kasih sudah diingatkan tentang saltik. Btw, typo sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, yaitu saltik
Daeng Techno
Sangat Infotmatif buat penulis di mana pun anda berada..Yang ke empat yang biasa terjadi termasuk saya, jika nulis..
Next time harus rumah deh,,
arezparawansa
Wadadawww, artikelnya edukatif sekali. Kadang saya menulis juga kurang teliti untuk penggunaan konjungsi ini. Ketika baca artikel ini saya selalu mengulang supaya paham hihihi.
Bahasa Indonesia itu memang mudah keliatannya tetapi ketika diaplikasikan memang agak susah terkadang semuanya sama ya.
Terimakasih cikgu!
Sudah Benarkah Penggunaan Konjungsi Kita? – Anging Mammiri
[…] Selengkapnya : Sudah Benarkah Penggunaan Konjungsi Kita?Penulis : IrmawatiBlog : https://cecein.wor… […]
Herman Yudiono
Terima kasih sharingnya Irma. Bagus sekali.
Kalau dalam SEO, konjungsi dikenal juga sebagai kata transisi untuk meningkatkan keterbacaan.